Seorang arsitek peraih penghargaan internasional memperingatkan bahwa Tokyo tengah diinjak-injak oleh gelombang pembangunan mewah. Ia melontarkan kritik tajam—dan jarang terjadi di Jepang—kepada para arsitek serta pengembang yang dinilai lebih mengutamakan kepentingan kalangan kaya dibandingkan kebutuhan publik.
Struktur Modern Tokyo yang Terus Berubah
Tokyo selama ini dikenal sebagai kota yang terus berubah. Bangunan lama kerap diruntuhkan untuk digantikan struktur modern yang lebih tahan gempa. Namun, sebagai metropolitan di salah satu ekonomi terbesar dunia, Tokyo secara mengejutkan tetap ramah bagi pejalan kaki dan berskala manusiawi. Jalan-jalan sempit, aturan zonasi yang longgar, serta keberadaan toko kecil dan bar lokal memungkinkan kehidupan komunitas tumbuh bahkan di kawasan elite. Perumahan terjangkau pun masih tersebar di berbagai distrik.
Namun, menurut Riken Yamamoto, karakter itu kini memudar. Dalam ceramahnya di Foreign Correspondents’ Club of Japan, Yamamoto—penerima Penghargaan Pritzker 2024—menyebut Tokyo sedang berubah menjadi koloni yang dibangun oleh orang-orang kaya dan neoliberalisme. Ia menilai banyak proyek baru sama sekali tidak dapat digunakan oleh masyarakat setempat.
Dalam beberapa tahun terakhir, bangunan kaca dan baja berarsitektur mencolok bermunculan di seluruh kota, dipenuhi butik, perkantoran, dan kondominium mewah. Kondominium bertingkat tinggi—dikenal sebagai tower mansion—tumbuh pesat sebagai respons atas kepadatan penduduk di pusat kota. Pada 2024, Tokyo Raya tercatat memiliki 812 tower mansion, dengan sekitar seperempatnya dibangun dalam satu dekade terakhir. Pasokan ruang perkantoran juga melonjak, dengan ratusan ribu tsubo ruang baru masuk pasar hingga 2026.
Pengakuan Mengejutkan dari Yamamoto Seorang Arsitek
Yamamoto mengakui bahwa Tokyo akan selalu perlu membangun kembali dirinya. Pengembang bukanlah hal yang buruk. Kita membutuhkan mereka, ujarnya. Namun, yang ia soroti adalah eksklusivitas kawasan elit yang lahir dari pembangunan berskala besar, terutama kompleks Hills karya Mori Building di area premium seperti Roppongi dan Azabu. Menurutnya, kawasan-kawasan itu menciptakan ruang tertutup yang terpisah dari kehidupan warga sekitar.
Ia bahkan menyebut nama sejumlah arsitek ternama, seperti Kengo Kuma dan Tadao Ando, seraya mempertanyakan apakah desain mereka benar-benar mempertimbangkan komunitas. Mengapa mereka terus bekerja untuk pengembang yang sama? Karena di sanalah pekerjaan itu, katanya.
Yamamoto dikenal dengan karya-karya yang menghubungkan berbagai lapisan sosial. Salah satu karyanya, sebuah stasiun pemadam kebakaran di Hiroshima, dirancang dengan eksterior transparan agar publik dapat melihat aktivitas harian petugas. Ia juga terlibat dalam proyek pembaruan permukiman kumuh di Caracas dengan pendekatan pelestarian kehidupan komunitas.
Kritik terbuka seperti ini jarang terjadi di Jepang. Pengecualian penting sebelumnya adalah penolakan kolektif terhadap desain awal stadion Olimpiade karya Zaha Hadid. Di ranah publik, beberapa proyek juga memicu kontroversi, termasuk pembangunan kembali Meiji Jingu Gaien dan rencana besar pembaruan Shibuya Station.
Yamamoto juga menyesalkan perubahan wajah kawasan Tsukiji, yang menurutnya menghancurkan jantung kota dan memutus hubungan historis dengan Ginza. Relokasi pasar ikan bersejarah ke Toyosu dan rencana pembangunan ulang bernilai ratusan miliar yen dinilainya menghapus sejarah dan kehidupan pasar tradisional.
Para pengembang akan datang dan membeli semuanya. ‘Something Hills’ akan muncul lagi, ujar Yamamoto. Ia menyerukan agar para ahli turun tangan dan mulai menyusun visi yang lebih inklusif tentang seperti apa masa depan Tokyo seharusnya.