Di saat banyak negara Eropa memperketat aturan pajak bagi orang kaya, Italia justru mengambil langkah berbeda. Negara yang terkenal dengan la dolce vita ini semakin memantapkan diri sebagai destinasi favorit para miliarder dan jutawan dunia.
Dengan pajak yang bersahabat, pasar properti yang berkembang pesat, serta gaya hidup mewah di kota-kota seperti Milan, Roma, dan kawasan Danau Como, Italia kini menarik perhatian individu berpenghasilan tinggi.
Langkah Italia ini terbilang melawan arus, terutama saat negara-negara lain di Eropa tengah berupaya mengurangi kesenjangan ekonomi melalui pajak kekayaan.
Menurut laporan dari CNBC pada Sabtu, 10 Januari 2026, daya tarik utama Italia bagi kaum super kaya adalah skema pajak tetap (flat tax) yang diperkenalkan sejak 2017. Skema ini memungkinkan warga negara asing atau individu yang lama tinggal di luar negeri untuk membayar pajak satu kali atas pendapatan dari luar negeri, tanpa dikenakan pajak tambahan hingga 15 tahun.
Walaupun pada tahun 2024 nilai pajak tetap ini naik dua kali lipat menjadi 200.000 euro per tahun, minat dari kalangan kaya tetap tinggi. Matteo Pella, seorang broker senior di Berkshire Hathaway HomeService, bahkan menyamakan kenaikan pajak ini dengan kenaikan harga kopi.
Italia: Tujuan Relokasi Favorit Jutawan Eropa
Berdasarkan data dari konsultan migrasi investasi Henley & Partners, Italia menjadi tujuan utama relokasi bagi orang kaya di Eropa pada tahun 2025. Diperkirakan sekitar 3.600 individu kaya baru akan pindah ke Italia pada tahun ini.
Sejumlah nama besar tercatat memilih Italia sebagai rumah baru, termasuk orang terkaya di Mesir yang juga pemilik klub Aston Villa, Nassef Sawiris, serta wakil ketua Goldman Sachs, Richard Gnodde.
Fenomena ini terjadi di Inggris, misalnya, telah menghapus rezim pajak non-domicile yang berlaku selama lebih dari dua abad. Sementara itu, Prancis dan Swiss tengah mempertimbangkan pengetatan pajak kekayaan dan warisan.
Milan: Magnet Kekayaan Baru
Kedatangan kaum super kaya ini membawa dampak signifikan, terutama bagi Milan, yang merupakan pusat keuangan dan mode Italia. Kota ini mengalami peningkatan aktivitas bisnis, mulai dari sektor keuangan, real estate, hingga gaya hidup premium.
Klub-klub eksklusif seperti Casa Cipriani Milano dan The Wilde bermunculan, memenuhi kebutuhan jaringan sosial dan bisnis kalangan elit global.
Milan telah mengalami perubahan besar. Sekarang, kota ini menarik bagi investor, pekerja kreatif, dan komunitas internasional, kata Anna Cipriani, direktur keanggotaan Casa Cipriani Milano.
Harga Properti Meroket
Dampak paling nyata terlihat di pasar properti. Menurut data dari grup real estate Tecnocasa, harga properti di Milan melonjak sebesar 49% sejak 2017, jauh melampaui rata-rata kota besar Italia lainnya yang hanya naik sekitar 10,9%. Wilayah Danau Como, Tuscany, dan Riviera Italia juga mencatat kenaikan harga dua digit dalam lima tahun terakhir.
Konsultan properti global Knight Frank bahkan memprediksi bahwa harga properti utama di Tuna55 akan terus tumbuh sebesar 3,5% pada tahun 2025. Ini tentang mereka yang mampu membelinya, karena harga belum tentu turun sesuai dengan logika pasar sebagai investasi, ujar Pella.
Di Balik Peluang, Ada Risiko Kesenjangan
Meskipun membawa investasi dan konsumsi besar, kebijakan yang ramah terhadap orang kaya ini juga menuai kritik. Beberapa pengamat berpendapat bahwa manfaat dari pajak tetap relatif kecil dibandingkan dengan defisit anggaran Italia, sementara kekayaan baru cenderung terkonsentrasi di wilayah tertentu.
Kekhawatiran lainnya adalah potensi meningkatnya kesenjangan sosial. Namun, pelaku bisnis berpendapat bahwa dampak lanjutan dari investasi tersebut tetap positif. Masuknya modal diyakini dapat menciptakan lapangan kerja di sektor perhotelan, jasa, keuangan, hingga ekonomi kreatif.
Ketika investasi masuk, roda ekonomi berputar. Kota menjadi lebih hidup dan peluang kerja ikut tumbuh, kata Cipriani.
Dengan menawarkan stabilitas, kemudahan pajak, dan kualitas hidup yang tinggi, Italia memposisikan diri sebagai pelabuhan aman bagi kekayaan global.