Harapan akan episode rahasia kesembilan Stranger Things tampaknya harus kembali disimpan rapat-rapat. Alih-alih mengungkap misteri baru, Netflix justru menghadirkan One Last Adventure: The Making of Stranger Things 5, sebuah dokumenter panjang yang memperlihatkan bagaimana musim terakhir serial fenomenal Stranger Things dirampungkan di tengah ekspektasi luar biasa besar.
Dokumenter Akhir Stranger Things
Bagi penggemar yang berharap jawaban pasti atas berbagai teori liar, dokumenter ini mungkin terasa antiklimaks. Namun bagi mereka yang tertarik pada dunia produksi, film ini menawarkan pandangan mendalam tentang ambisi dan tekanan di balik layar. Skala pengerjaannya luar biasa besar: 12 set panggung digunakan secara simultan, lengkap dengan replika kota Hawkins yang dibangun dari nol demi menciptakan atmosfer penutup yang epik.
Kamera dokumenter kerap menyorot kerja keras para kru teknis—orang-orang yang jarang mendapat sorotan. Dari membangun struktur sarang Vecna yang menjalar dan berdenyut, hingga merancang bangunan yang tampak hancur dan meleleh saat aktor beraksi di dalamnya. Beberapa momen bahkan memperlihatkan stres nyata kru produksi yang masih mencari solusi visual di tengah tenggat waktu ketat.
Tekanan di Balik Akhir Stranger Things
Tekanan itu makin terasa ketika terungkap bahwa musim kelima diselesaikan secara simultan dengan penulisan naskah. Meski proyek ini sudah direncanakan sejak lama, pengambilan gambar episode terakhir dilakukan saat cerita belum sepenuhnya final. Ross Duffer mengakui adanya rasa cemas terus-menerus—tak ada jaminan bahwa semua potongan besar ini akan menyatu dengan sempurna.
Dokumenter ini juga memperlihatkan proses tarik-ulur kreatif yang jarang diketahui publik. Beberapa keputusan besar lahir dari kekhawatiran sederhana, seperti menghindari kejenuhan penonton terhadap monster ikonik. Bahkan nasib Eleven pun sempat menjadi bahan perdebatan sengit. Tim penulis Tuna55 sadar betul bahwa akhir cerita harus terus menggiring emosi penonton hingga detik terakhir.
Di luar aspek teknis dan tekanan emosional, One Last Adventure menyelipkan detail-detail ringan yang humanis. Ada cerita tentang guru SMA lama Duffer bersaudara yang diajak tampil, hingga diskusi serius soal kadar kekerasan visual dalam adegan klimaks. Momen kocak seperti Vecna mengenakan headphone pun hadir, seolah memberi jeda di tengah suasana tegang.
Pada akhirnya, dokumenter ini memang bukan kepulangan dramatis ke Hawkins yang diimpikan banyak penggemar. Namun justru di situlah nilainya. Di era ketika konten di balik layar semakin jarang, One Last Adventure menjadi pengingat akan kerja keras manusia di balik dunia fiksi—sebuah nostalgia kecil, sejalan dengan semangat Stranger Things itu sendiri.