You are currently viewing Ekstradisi Chen Zhi: Jalan Keluar Kamboja dari Tekanan Diplomatik?

Ekstradisi Chen Zhi: Jalan Keluar Kamboja dari Tekanan Diplomatik?

Penyerahan Chen Zhi oleh Kamboja ke otoritas Tiongkok menjadi sinyal kuat bahwa Phnom Penh tengah berada di bawah tekanan serius. Lebih dari sekadar penegakan hukum, langkah ini mencerminkan upaya bertahan sebuah rezim yang terjepit konflik perbatasan, isolasi diplomatik, dan krisis reputasi internasional.

Tekanan Diplomatik Penangkapan Chen Zhi

Chen Zhi—warga naturalisasi Kamboja yang dikenal sebagai figur sentral di balik Prince Group—ditangkap pada 6 Januari dan diekstradisi sehari kemudian. Waktunya sangat sensitif, hanya berselang sepuluh hari setelah gencatan senjata antara Kamboja dan Thailand mengakhiri hampir tiga pekan bentrokan bersenjata.

China, yang menjadi mediator utama konflik tersebut, memiliki kepentingan jelas. Beijing berulang kali menegaskan bahwa pemberantasan penipuan daring—yang menelan kerugian miliaran dolar dan menargetkan warga negaranya—adalah prioritas nasional. Negara-negara seperti Kamboja, Laos, dan Myanmar pun menjadi fokus tekanan diplomatik.

Thailand turut memainkan peran penting. Pemerintah Bangkok, yang tengah menghadapi dinamika politik domestik, memosisikan konflik perbatasan sebagai perang melawan kejahatan lintas negara. Kerja sama Kamboja dalam menindak sindikat penipuan menjadi prasyarat utama tercapainya gencatan senjata.

Sebelum diekstradisi, Chen dikenal sebagai tokoh berpengaruh dengan akses langsung ke lingkaran kekuasaan. Ia merupakan penasihat bagi Hun Sen dan Hun Manet, serta penerima gelar kehormatan kerajaan. Pada KTT ASEAN 2022, produk jam mewah dari anak usaha Prince Group bahkan dijadikan suvenir resmi bagi para pemimpin regional.

Strategi Kamboja

Namun segalanya berubah setelah sanksi terkoordinasi dijatuhkan oleh Amerika Serikat dan Inggris pada Oktober lalu. Menurut Jacob Sims dari Universitas Harvard, sejak saat itu Chen lebih menjadi liabilitas ketimbang aset. Dengan mengekstradisinya ke Tiongkok, Phnom Penh berhasil mengalihkan sorotan Barat sekaligus mempertahankan dukungan Beijing.

Langkah ini juga mencerminkan kerentanan strategis Kamboja. Ketergantungan berlebihan pada China sempat membuat pemerintah merasa terekspos ketika dukungan Beijing tidak langsung hadir di awal konflik dengan Thailand. Bahkan, Kamboja sempat mencoba membuka jalur alternatif dengan mendekati Washington, termasuk secara kontroversial menominasikan Donald Trump untuk Hadiah Nobel Perdamaian.

Di dalam negeri, tantangan Kamboja tidak kalah berat. Transisi kepemimpinan antar generasi, ekonomi yang terlalu bergantung pada tenaga kerja murah, serta maraknya ekonomi gelap Tuna55 telah merusak reputasi negara. Virak Ou dari Future Forum menilai reformasi struktural kini tak terelakkan, meski sejarah menunjukkan reformasi sering berakhir setengah hati.

Bagi Tiongkok, ekstradisi Chen dipamerkan sebagai bukti efektivitas penegakan hukum lintas batas. Namun bagi banyak pengamat, ini baru langkah simbolik. Tanpa tekanan berkelanjutan terhadap jaringan yang lebih luas dan elite pendukungnya, industri penipuan di Kamboja diperkirakan akan tetap bertahan.

Leave a Reply