Awal yang Diharapkan Berubah Jadi Mimpi Buruk bagi Real Madrid

Momentum yang seharusnya menjadi titik balik justru berubah menjadi malam paling kelam bagi Real Madrid. Alih-alih membuka lembaran baru, raksasa Spanyol itu kembali terjerumus ke krisis terdalamnya.

Harapan publik Santiago Bernabeu runtuh ketika Madrid secara mengejutkan angkat koper dari Copa del Rey. Pada babak 16 besar, Los Blancos harus mengakui keunggulan Albacete dengan skor 2-3—tim divisi dua yang musim ini bahkan masih berjibaku menjauhi zona degradasi.

Kekalahan tersebut datang hanya berselang beberapa hari setelah pergantian pelatih. Alvaro Arbeloa resmi ditunjuk sebagai nakhoda anyar menggantikan Xabi Alonso pada Senin, lalu diperkenalkan sehari setelahnya sebagai pelatih ke-17 di era kepemimpinan Florentino Perez. Namun debutnya di level tertinggi justru diwarnai eliminasi yang mencoreng nama besar klub.

Pemecatan Alonso, yang baru delapan bulan memimpin dengan proyek permainan modern, sempat memberi harapan akan perubahan arah. Terlebih setelah rentetan hasil mengecewakan, termasuk kekalahan dramatis dari Barcelona di final Piala Super Spanyol. Namun, realitas berbicara lain: pergantian pelatih bukanlah obat mujarab bagi penyakit kronis Madrid.

Masalah-masalah mendasar sudah lama mengakar, bahkan sejak periode akhir kepelatihan Carlo Ancelotti. Mulai dari ketahanan fisik dan mental yang menurun, minimnya figur pemimpin saat tim tertekan, krisis bek yang benar-benar bugar, absennya pengatur tempo di lini tengah, hingga tumpulnya lini depan ketika menghadapi pertahanan rapat lawan.

Masalah Kebugaran Pemain Real Madrid yang Tak Kunjung Teratasi

Meski begitu, hampir tak ada yang memprediksi Madrid akan tersingkir dari dua kompetisi hanya dalam hitungan hari. Laga melawan Albacete menjadi pertandingan pertama Arbeloa di level elite—dan sekaligus kekalahan perdananya.

Pengalaman sang pelatih di sepak bola senior sejauh ini memang terbatas, hanya menangani tim cadangan Madrid di divisi tiga pada awal musim. Dalam laga ini, sejumlah pilar utama seperti Kylian Mbappe, Jude Bellingham, Thibaut Courtois, hingga Aurelien Tchouameni tidak dibawa, meski mereka tampil fit pada final Supercopa di Arab Saudi pekan sebelumnya.

Namun komposisi starter tetap dihuni nama-nama mentereng seperti Vinicius Junior, Federico Valverde, Arda Guler, dan Dean Huijsen. Sayangnya, keberadaan mereka tak cukup untuk mengontrol jalannya pertandingan.

Madrid tampak kesulitan menguasai tempo, bahkan ketika Albacete juga melakukan rotasi pemain. Pada babak kedua, penurunan intensitas dan energi Madrid terlihat jelas—sebuah cerminan masalah kebugaran dan rapuhnya kepercayaan diri yang terus berulang selama 18 bulan terakhir.

Kenyataan yang Lebih Menyakitkan

Janji Arbeloa untuk menghadirkan permainan agresif, penuh semangat, dan rasa bangga nyaris tak terwujud di lapangan. Sejumlah pergantian pemain justru membuat struktur tim semakin goyah.

Keputusan beralih ke formasi tiga bek dan memasukkan Dani Carvajal—yang baru pulih dari cedera panjang—tidak memberi dampak signifikan. Sebaliknya, kepercayaan diri Albacete meningkat drastis saat laga memasuki 10 menit terakhir dengan skor imbang 1-1.

Kesalahan dalam mengantisipasi situasi bola mati kembali menghukum Madrid. Jefte Betancor, yang masuk sebagai pemain pengganti, sukses membawa Albacete unggul 2-1. Dalam prosesnya, Gonzalo Garcia—produk akademi Madrid—ikut menjadi sorotan.

Garcia sempat menebus kesalahan lewat sundulan penyeimbang di masa injury time, membuat Madrid seolah lolos dari bencana dan diprediksi akan unggul di babak tambahan. Namun harapan itu hanya bertahan sekejap.

Pada menit ke-96, Carvajal gagal menghentikan Betancor yang melepaskan tembakan melengkung sempurna ke sudut gawang, melewati Andriy Lunin. Skor 3-2 menutup malam kelam Madrid.

Salah Satu Eliminasi Terburuk

Kekalahan ini langsung disejajarkan dengan eliminasi paling memalukan dalam sejarah Madrid di Copa del Rey, setara dengan kekalahan telak dari Alcorcon pada 2009 dan tersingkirnya mereka dari Alcoyano pada 2021—dua tim kasta bawah.

Ironisnya, Arbeloa pernah mengalami momen pahit serupa saat masih berstatus pemain, termasuk mencetak gol bunuh diri dalam laga melawan Alcorcon pada musim pertamanya kembali dari Liverpool.

Dalam konferensi pers, Arbeloa memilih bersikap reflektif.

Saya mengerti jika orang menyebut ini kegagalan. Tapi saya tidak takut dengan kata itu, ujarnya. Saya sudah sering gagal dalam hidup, bahkan dalam situasi yang lebih menyakitkan dari ini. Dari sanalah saya belajar.

Berbeda dengan pendekatan konfrontatif ala Jose Mourinho di masa lalu, Arbeloa menolak mencari kambing hitam. Ia menekankan pentingnya peningkatan kondisi fisik dan menyambut kembalinya pelatih kebugaran senior Antonio Pintus sebagai langkah krusial. Tanggung jawab penuh, menurutnya, ada di pundaknya.

Suporter Murka, Tekanan Meningkat

Arbeloa sadar badai kritik akan menyambut timnya saat menjamu Levante di Bernabeu akhir pekan ini. Jika ingin tetap bersaing di La Liga dan Liga Champions, perubahan signifikan harus segera dilakukan.

Kapten tim Dani Carvajal pun tak menutupi rasa kecewanya.

Kami sudah menyentuh titik terendah dengan cara yang menyakitkan, katanya. Kami para pemain bertanggung jawab penuh. Mulai sekarang, waktunya introspeksi dan bekerja lebih keras. Kami meminta maaf kepada fans karena gagal memenuhi standar klub ini.

Apakah skuad Madrid mampu bangkit masih menjadi tanda tanya besar. Namun satu hal kini jelas: kekalahan mengejutkan ini menegaskan bahwa persoalan Real Madrid jauh melampaui sekadar pergantian pelatih. Tuna55

Leave a Reply