You are currently viewing Arsitek Saks Global, Richard Baker, Meninggalkan Warisan yang Penuh Lika-Liku

Arsitek Saks Global, Richard Baker, Meninggalkan Warisan yang Penuh Lika-Liku

Richard Baker, sosok di balik terbentuknya kerajaan ritel mewah Saks Global, resmi mengundurkan diri dari jabatannya sebagai CEO di tengah proses kebangkrutan perusahaan. Kepergiannya menutup sebuah perjalanan karier panjang yang dipenuhi keberhasilan besar di awal, namun juga diwarnai serangkaian kegagalan signifikan dalam beberapa tahun terakhir.

Taipan properti berusia 60 tahun itu mundur pada Selasa dan digantikan oleh mantan CEO Neiman Marcus, Geoffrey van Raemdonck, setelah Saks Global mengajukan perlindungan kebangkrutan Bab 11. Baker sebelumnya menjabat sebagai ketua eksekutif, sebelum sempat merangkap sebagai CEO awal bulan ini menyusul pengunduran diri mendadak eksekutif senior Marc Metrick.

Pada 2024, Baker merancang akuisisi Neiman Marcus senilai 2,7 miliar dolar AS melalui konglomerat ritel berbasis Kanada, Hudson’s Bay Company, yang telah menguasai Saks sejak 2013. Ia kemudian memisahkan aset ritel mewah di Amerika Serikat untuk membentuk entitas baru bernama Saks Global, yang menyatukan nama-nama besar seperti Saks Fifth Avenue, Neiman Marcus, dan Bergdorf Goodman.

Richard Baker, Bisnis Properti yang Mengalir dalam Darah

Latar belakang Baker tak bisa dilepaskan dari dunia properti. Lulusan Cornell University ini merupakan putra dari Robert C. Baker, pendiri National Realty & Development Corp, pengembang properti komersial. Dari garis keluarga ibunya, Baker juga mewarisi pengaruh Loomis Grossman, tokoh yang berperan mempopulerkan konsep pusat perbelanjaan strip mall di Amerika Serikat.

Pada 2005, Baker ikut mendirikan NRDC Equity Partners, dana ekuitas swasta yang berfokus pada sektor ritel. Portofolionya berkembang secara global dan mencakup Galeria Karstadt Kaufhof, jaringan department store terbesar di Jerman.

Di fase awal kariernya, Baker dikenal memiliki sentuhan emas. Akuisisi Lord & Taylor pada 2006 membuahkan hasil positif, di mana ia berhasil membawa peritel tersebut melewati krisis keuangan global dan mencatat pertumbuhan penjualan yang solid.

Kesuksesan berlanjut pada 2008 ketika Baker mengambil alih Hudson’s Bay—perusahaan tertua di Amerika Utara—dan membalikkan kinerja toko-toko unggulannya setelah bertahun-tahun mencatat penurunan penjualan. Akuisisi Saks Fifth Avenue pada 2013 semakin memperkuat posisinya di industri barang mewah.

Keberhasilan yang Mulai Pudar

Namun, momentum tersebut tidak bertahan lama. Upaya ekspansi Hudson’s Bay ke Belanda pada 2017 berakhir gagal. Dua tahun kemudian, di tengah gempuran ritel daring terhadap toko fisik, Baker menjual Lord & Taylor seharga 100 juta dolar AS. Tak lama setelah itu, jaringan legendaris tersebut tutup sepenuhnya.

Nasib serupa dialami operasi Hudson’s Bay di Kanada, yang menutup seluruh tokonya tahun lalu setelah beroperasi selama 355 tahun—sebuah akhir simbolis bagi salah satu ikon ritel tertua di kawasan tersebut.

Perjuangan Berat Richard Baker di Saks Global

Penjualan Lord & Taylor sejatinya dimaksudkan untuk membebaskan Hudson’s Bay agar dapat fokus mengembangkan Saks. Namun, upaya tersebut tak membuahkan hasil. Kesulitan finansial terus berlanjut hingga mendorong merger besar pada 2024 yang melahirkan Saks Global.

Kesepakatan itu justru membebani entitas baru dengan utang lebih dari 2 miliar dolar AS, bertepatan dengan perlambatan pasar barang mewah global. Ketidakmampuan perusahaan membayar pemasok secara tepat waktu membuat pasokan barang tersendat dan rak-rak toko mulai kosong.

Begitu konsumen memasuki toko dan menemukan stok minim, mereka akan segera mencari alternatif lain, ujar Marshal Cohen, kepala penasihat ritel di Circana.

Steven Dennis, presiden SageBerry Consulting, menilai luasnya ruang toko Saks justru bertolak belakang dengan fokus Baker pada segmen kemewahan murni. Berbeda dengan Bloomingdale’s atau Nordstrom, Saks enggan merambah segmen kemewahan yang lebih terjangkau. Angkanya tidak akan masuk jika Anda hanya mengejar 1 persen konsumen teratas, ujarnya.

Nilai Properti di Tengah Kebangkrutan

Meski bisnis ritelnya terpuruk, aset properti Saks tetap menjadi daya tarik utama. Perusahaan menguasai sekitar 13 juta kaki persegi ruang ritel di lokasi-lokasi premium, termasuk toko Saks Fifth Avenue, Saks Off 5th, Bergdorf Goodman, dan Neiman Marcus.

Banyak dari properti tersebut dilindungi perjanjian sewa jangka panjang dengan tarif jauh di bawah harga pasar, serta klausul hak guna timbal balik yang memberi penyewa kendali atas pengembangan ulang kawasan. Dalam konteks kebangkrutan, struktur ini berpotensi memberikan nilai signifikan bagi para kreditor.

Jika melihat secara realistis, bisnis-bisnis ini memang tidak memiliki masa depan yang cerah, kata Neil Saunders, direktur pelaksana GlobalData. Jadi, masuk akal jika upaya Baker selama ini adalah memonetisasi aset Tuna55 tersebut semaksimal mungkin.

Warisan Richard Baker pun menjadi gambaran kompleks: perpaduan antara visi besar, keberanian mengambil risiko, dan kenyataan pahit perubahan lanskap ritel global yang tak lagi berpihak pada model lama.

Leave a Reply