Industri otomotif Amerika Serikat memasuki tahun 2026 dengan sikap penuh kewaspadaan. Setelah lebih dari setengah dekade bergulat dengan krisis beruntun—mulai dari pandemi Covid-19, gangguan rantai pasokan global, kelangkaan chip semikonduktor, hingga ketegangan geopolitik dan kebijakan perdagangan—para produsen mobil kini dihadapkan pada tantangan baru yang tak kalah serius: harga kendaraan yang kian tidak terjangkau di tengah permintaan konsumen yang mulai melemah.
Dikutip dari Tuna55, Senin (26/1/2026), sektor otomotif AS yang menyumbang sekitar 4,8 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional sebenarnya sempat menunjukkan ketahanan luar biasa sejak 2020. Penjualan kendaraan berhasil pulih secara bertahap dan mencapai 16,3 juta unit pada 2025—angka tertinggi sejak pandemi melanda.
Namun, capaian tersebut masih berada di bawah level pra-pandemi yang relatif stabil di atas 17 juta unit per tahun. Fakta ini menjadi sinyal bahwa pemulihan industri belum sepenuhnya solid. Memasuki 2026, ketidakpastian justru diperkirakan berlanjut. Sejumlah analis memproyeksikan penjualan akan stagnan, bahkan berpotensi menurun, seiring konsumen semakin berhati-hati dalam mengambil keputusan pembelian besar.
Di tengah tekanan inflasi yang belum sepenuhnya reda, suku bunga tinggi, serta biaya asuransi kendaraan yang melonjak, membeli mobil baru kini menjadi beban finansial yang semakin berat, khususnya bagi rumah tangga kelas menengah. Kondisi ini turut memengaruhi sentimen pasar dan perencanaan jangka panjang para produsen otomotif.
Kita harus merencanakan yang terburuk dan berharap yang terbaik,” ujar Randy Parker, CEO Hyundai Motor America, dalam wawancara dengan Tuna55. Pernyataan tersebut mencerminkan sikap mayoritas pemimpin industri otomotif AS yang kini bersiap menghadapi pasar yang lebih mahal, lebih kecil, dan semakin sulit diprediksi.
Harga Mobil Naik, Keterjangkauan Jadi Krisis
Salah satu masalah paling krusial adalah lonjakan harga kendaraan baru. Data dari Cox Automotive menunjukkan harga transaksi rata-rata mobil baru di AS mendekati USD 50 ribu pada akhir 2025. Angka ini melonjak sekitar 30 persen dibandingkan awal 2020—kenaikan yang jauh melampaui tren historis sekitar 3 persen per tahun.
Tak hanya harga beli, biaya kepemilikan kendaraan secara keseluruhan juga terus meningkat. Pengeluaran untuk perawatan, perbaikan, dan terutama asuransi kendaraan naik rata-rata 13 persen per tahun dalam lima tahun terakhir. Kombinasi faktor-faktor tersebut membuat kepemilikan mobil baru semakin terasa tak masuk akal” bagi banyak konsumen.
Jika tren ini berlanjut tanpa penyesuaian strategi, industri otomotif AS berisiko memasuki fase pengetatan berkepanjangan. Tantangan ke depan bukan sekadar menjual mobil, melainkan mengembalikan keterjangkauan agar pasar kembali bergerak sehat—sebuah ujian besar bagi salah satu sektor industri terpenting di Amerika Serikat.