You are currently viewing Sir Alex Ferguson: Kisah Seorang Anak Dermaga yang Menaklukkan Sepak Bola Dunia

Sir Alex Ferguson: Kisah Seorang Anak Dermaga yang Menaklukkan Sepak Bola Dunia

Sulit membayangkan Manchester tanpa sosok Sir Alex Ferguson. Selama lebih dari dua dekade, ia bukan sekadar manajer Manchester United, melainkan figur otoritas yang menentukan arah, budaya, dan mentalitas klub.

Kisah Hidup Sir Alex Ferguson

Ferguson lahir di Govan, kawasan keras Glasgow yang hidup dari galangan kapal. Lingkungan itulah yang membentuk mental baja dan etos kerja tanpa kompromi. Sejak muda, hidupnya selalu berada di persimpangan: mengejar sepak bola atau bertahan di dunia industri. Ia memilih keduanya—bekerja sebagai pembuat perkakas sambil mengejar mimpi di lapangan hijau.

Sebagai pemain, Ferguson dikenal tajam namun temperamental. Kariernya tak pernah benar-benar mapan, bahkan nyaris membuatnya hengkang ke Kanada. Namun satu hat-trick legendaris di Ibrox mengubah segalanya dan membuka jalan menuju status profesional.

Ironisnya, klub impiannya justru meninggalkan luka terdalam. Di Rangers, ia merasa terasing—sebuah pengalaman yang kelak membentuk obsesinya terhadap loyalitas dan disiplin. Saat sepatu pemain digantung, Ferguson menemukan panggilan sejatinya: memimpin dari pinggir lapangan.

Namanya mulai menggema saat ia mengangkat Aberdeen ke puncak Eropa, menumbangkan raksasa seperti Real Madrid. Dari sana, Old Trafford memanggil.

Awal Karier Sir Alex Ferguson

Awal kariernya di United nyaris berakhir prematur. Tekanan, kritik, dan ancaman pemecatan mengintai. Namun satu kemenangan di Piala FA menjadi titik balik. Setelah itu, Ferguson membangun dinasti—dengan pemain muda, disiplin keras, dan keyakinan mutlak bahwa tidak ada individu yang lebih besar dari klub.

Konflik terbuka dengan David Beckham, pemecatan Roy Keane, hingga pembelaannya terhadap Eric Cantona menunjukkan paradoks Ferguson: kejam sekaligus setia. Ia bisa menghancurkan karier, namun juga menyelamatkannya.

Ketika pensiun pada 2013, Ferguson meninggalkan kekosongan yang hingga kini belum sepenuhnya terisi. Trofi boleh dihitung—13 liga, dua Liga Champions—tetapi pengaruhnya jauh melampaui angka.

Kini, di usia senja, amarah legendaris itu tampak mereda. Ferguson lebih sering terlihat tersenyum, bahkan berbagi tawa dengan rival lamanya. Namun bagi penggemar United, satu hal tak berubah: Sir Alex Ferguson adalah standar emas. Ukuran kejayaan. Dan kisah hidupnya akan selalu menjadi legenda Manchester. Tuna55

Leave a Reply