Tim nasional Inggris telah mengajukan Kansas City, Amerika Serikat, sebagai lokasi markas mereka selama tampil di Piala Dunia 2026.
Skuad berjuluk The Three Lions itu berencana menggunakan Swope Soccer Village, sebuah pusat latihan berstandar tinggi yang terletak di Kansas City, sebagai tempat persiapan utama sepanjang turnamen.
Hingga kini, FIFA selaku badan pengelola sepak bola dunia belum mengumumkan secara resmi penetapan pusat latihan bagi seluruh peserta. Pengesahan tersebut dijadwalkan baru akan dilakukan pada awal Februari.
Meski masih menunggu keputusan resmi, Asosiasi Sepak Bola Inggris (FA) telah lebih dahulu mengajukan permohonan agar Inggris menetap di Kansas City, dengan Swope Soccer Village menjadi pilihan utama untuk sesi latihan harian.
Sumber internal menyebutkan bahwa peluang Inggris untuk mendapatkan lokasi yang diinginkan cukup besar, meskipun FIFA masih merampungkan proses penentuan markas seluruh tim peserta.
Pada babak penyisihan grup, Inggris tergabung di Grup L bersama Kroasia, Ghana, dan Panama. Tiga pertandingan tersebut akan berlangsung di stadion berbeda, yakni di Arlington, Texas; Foxborough di dekat Boston; serta East Rutherford, New Jersey.
Strategi Inggris Selama Turnamen
Tim asuhan Thomas Tuchel akan melakukan perjalanan ke masing-masing kota tempat pertandingan dari basis mereka di Kansas City, lalu kembali ke Missouri setelah laga selesai.
Namun, belum ada kepastian apakah Inggris akan tetap menggunakan Kansas City sebagai markas apabila mereka berhasil melaju ke fase gugur.
Staf pelatih dan federasi juga menyiapkan opsi alternatif, termasuk kemungkinan mendirikan markas sementara yang lebih dekat dengan lokasi pertandingan pada babak eliminasi.
Sebelum bertolak ke Kansas City, Inggris dijadwalkan menjalani pemusatan latihan prapiala dunia di Florida. Di sana, mereka akan melakoni dua laga uji coba sebagai bagian dari persiapan akhir sebelum memasuki turnamen.
Hasil Jadi Penentu Atmosfer Kamp
Kondisi kamp terbaik selalu ditentukan oleh kemenangan. Fasilitas boleh saja mewah, tetapi hasil di lapanganlah yang paling berpengaruh terhadap suasana tim.
Selama turnamen besar, kehidupan di kamp timnas kerap terasa seperti berada di dunia tersendiri. Para pemain jauh dari keluarga, terlibat dalam ajang olahraga terbesar, namun sekaligus terisolasi dari kehidupan di luar lapangan.
Meski demikian, pengalaman tersebut justru meninggalkan kesan mendalam bagi para pemain.
Saya menikmatinya, karena Anda tahu beberapa minggu ke depan bisa menjadi masa paling berharga dalam hidup, ujar Alan Shearer, mantan kapten Timnas Inggris.
Pendekatan pengelolaan kamp Inggris pun terus berkembang. Pada Euro 1992, pelatih Graham Taylor sempat melarang pemain membaca media. Namun, kebijakan tersebut dinilai tidak memberikan dampak besar.
Kami tak perlu diberi tahu bahwa performa kami buruk. Berada di posisi terbawah grup sudah menjelaskan segalanya. Pada akhirnya, semuanya kembali pada hasil, tutur Shearer mengenang. Tuna55